Critical Eleven

Hasil gambar untuk critical eleven

Lagi pengen gaya-gayaan kekinian bahas tentang Novel Critical Eleven (Klo mau kekinian bahas filmnya dong buk, bahas novelnya doang mah udah basi kalee. Tsahh…). Haduhhh, bumil rempong macam saya ini manalah mungkin mau bahas film terbaru yang baru tayang di bioskop atau justru bahkan baru mau tayang. Mau nonton di mana say???? Di Rembang ini bioskop udah tutup pintu dari jaman saya masih ingusan. So, saya musti cukup puas dengan baca novelnya doang. Itupun udah telat bingit. Dan itu juga karena ketidaksengajaan saya yang liat novelnya ibu dosen Dian Anita yang lagi mau dipinjemin ke Anita (ini kenapa jadi double Anita begitu). Akhirnyalah kemaren sepulang kantor seharian sampe malem saya niat bener untuk ngabisin itu seluruh isi novel. Just feeling, ketika saya membaca selembar dua lembar sebuah novel, maka saya akan langsung tau apakah saya bisa melanjutkan membacanya esok hari, ataukah saya pasti akan menyelesaikannya hari itu juga karena takut kena penyakit ‘penasaran’. Dan benar juga, selesai jugalah novel itu tepat pukul 22.20 WIB.

Orang yang kenal saya pasti tau betapa liar imajinasi saya setiap membaca novel yang bagus. Karena itu saya pasti lebih memilih untuk nonton filmnya dulu baru baca novelnya (baca: kalo bisa) dibandingkan dengan baca novelnya, baru kemudian nonton filmnya. Karena pastinya pastinya dan pastinya saya seringkali kecewa dengan film yang saya tonton yang sama sekali tidak sesuai dengan imajinasi saya saat baca novelnya. Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta adalah salah dua dari contoh sekian banyak kekecewaan saya. Tapi bukankah pastinya film itu ada karena berawal dari adanya novelnya begitu. Maka pantas saja jika lebih sering saya sudah membaca novelnya baru kemudian nonton filmnya. Kali ini saya berharap perasaan puas ketika selesai membaca Critical Eleven ini juga akan sama rasanya ketika nanti saya berkesempatan nonton filmnya (baca: di layar kaca yang entah kapan bisa tayang).

Critical Eleven. Novel ketujuh Ika Natassa ini bener-bener bikin saya terhanyut. Berjam-jam membacanya sungguh-sungguh tidak sama sekali membuat saya bosan. Dan justru semakin penasaran dengan alur ceritanya. Sama dengan judulnya “Critical Eleven”, yang artinya 11 menit masa kritis dalam penerbangan yaitu 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing, maka dalam novel ini digambarkan pertemuan pertama Anya dan Ale. Critical Eleven menggambarkan 11 menit penting di momen pertemuan pertama, di mana 3 menit pertama bersifat kritis karena saat itulah kesan pertama mulai terbentuk, lalu ada 8 menit sebelum berpisah — saat ketika senyum, melihat tindak tanduknya, dan ekspresi wajah orang tersebut, menjadi pertanda apakah itu akan menjadi awal suatu hubungan atau hanya sekadar akhir dari pertemuan tidak ada artinya. Ah,,,, panjang kali kalo saya bercerita tentang novel ini. Mending baca sendiri kali ya. Udah pada baca kan????

Saya memang suka sekali membaca novel. Terutama novel drama romantis macam Critical Eleven ini. Saya bisa benar-benar masuk ke alur ceritanya. Berasa mengalaminya sendiri. Dan saya pikir itu wajar meski mungkin sebagian orang bilang saya aneh. Saya bisa nangis berderai-derai atau bahkan tertawa terpingkal-pingkal kalo lagi baca. Bahkan saya bisa bayangin tokoh si A itu seperti apa raut mukanya, penampilannya dan sebagainya. Sama seperti saat baca novel ini. Karena saya sudah tau bocorannya dari awal bahwa Reza Rahadian-lah yang akan memerankan sosok Ale, dan saya tidak punya alasan untuk tidak menyetujuinya ketika saya mulai membaca novel ini bahkan saat baru mulai di Chapter 1. Karena itu untuk selanjutnya bahkan imajinasi liar saya langsung menggambarkan sosok Reza Rahadian dalam setiap kisah di novel ini. Hufftttt,,,,saya berasa sudah hampir gila.

Dan lebih gilanya lagi tadi pagi sempet-sempetnya saya kirim sms ke ibu dosen Dian Anita dan bilang “Anakku kok dadi pengen tak jenengke ALDEBARAN RISJAD. Sepertinya akan sangat keren. Iya nggak sih yan???”. Dan si ibu dosen inipun membalas sms saya “Huffttt speechless mbak aku :(“. Parahnya lagi, saya juga sempet-sempetnya browsing arti nama Aldebaran Risjad di internet. Gelo banget kan ya……*tepok jidat*. Beruntunglah saya hanya menemukan arti nama Aldebaran yang berarti Pengikut/Bintang ke-13 yang paling terang dalam astronomi. Dan saya tidak menemukan arti nama Risjad atau Risyad. Jadi sepertinya niatan saya untuk memberi nama Aldebaran Risjad buat adeknya Mas Nadhif urung saja kali ya. Karena kalopun saya ngotot untuk kasih nama itu, saya pasti akan kembali berdebat dengan Mas karena sebelumnya kami berdua sudah sepakat dengan sebuah nama ciamik buat anak kedua kami nanti. Meskipun begitu rasanya saya masih saja terngiang-ngiang dengan nama Aldebaran Risjad alias Ale yang cool, yang ganteng, yang setia, yang teguh memperjuangkan cintanya, yang mau menyadari kesalahannya, yang tidak malu untuk meminta maaf, yang cuma manusia biasa yang juga punya ego dan juga bisa menangis walaupun dia seorang laki-laki. Dan yang paling penting adalah Aldebaran Risjad alias Ale itu bagi saya ya seperti sosok Reza Rahadian. Siapalah yang nggak mau kalo punya anak kece bin keren macam dia. Terlepas si Reza ini punya kekurangan atau apapun itu ya itu jadi urusan dia pribadi kan ya. Sapa tau itu cuma gosip-gosip cantik yang justru malah semakin membuatnya semakin tenar. Buat saya seorang Reza Rahadian ya itu tadi. Sempurna secara fisik. Wakakakkaka. Meleleh beneran deh pokoknya.

Kenapa sih cuma bahas si Ale?? Kenapa nggak bahas Anya. Bukankah dari awal sebenernya novel ini bercerita dari sisi si Anya. Anya juga tidak dalam posisi 100% salah. Semua wanita akan seperti itu. Mungkin saja caranya dalam menyikapi sebuah kehilangan yang berbeda. Mungkin juga caranya untuk menyembuhkan diri saat merasa tersakiti juga berbeda. Apalagi saya yang tidak bisa membayangkan seandainya jadi sosok Anya yang harus melahirkan normal, dengan merasakan dasyatnya sakit saat diinduksi, sementara saat itu dia tau yang dia lahirkan seorang anak yang sudah tidak bernyawa. Untuk kemudian dihakimi dalam hal ini dia yang bersalah. Oleh suaminya sendiri pula. Hu hu hu,, mewek semewek-meweknya deh pokoknya. Sama halnya dengan si Ale juga begitu.  Wajar juga dia merasa nggak ngerti kalo cuma dengan salah omong saja bisa sedahsyat itu efeknya. Ale sudah minta maaf. Sudah ngajak ngomong baik-baik. Sudah mau ngikuti segala macam aturan dari istrinya. Tapi tetep saja istrinya cuma nganggep dia seekor laler. Hiks. Siapa juga yang nggak ngerasa kehilangan. Dua-duanya manusiawi banget. Nggak ada yang lebih istimewa menurut saya. Dan justru di situlah sisi menariknya novel ini. Semuanya terasa wajar dan normal. Manusiawi. Tidak dibuat-buat. Tidak memajang karakter seseorang yang perfect tanpa cela. Tapi karena saya seorang perempuan. Iya, saya seorang perempuan. Karena itu saya lebih mendamba karakter si Ale dibanding si Anya, ha ha ha *tetep*.

Aldebaran Risjad. Hari ini tetep saja judulnya Aldebaran Risjad alias Ale. Belum bisa move on ini kayaknya dengan satu nama itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s