Bayiku “Masih” Sungsang

Huwaaaaaaaa,,,,pengen nangis jejeritan nggak sih kalo di usia kehmilan 33 minggu dan ternyata posisi bayi saya dinyatakan “masih” sungsang (ayo dong dek, muterrrrrrr). Padahal dan padahal pas cek ke dokter tanggal 14 Februari kemarin posisi bayinya udah okeh loh. Saya kan jadi tenang banget waktu itu. Tapi ternyata, waktu jadwal periksa rutin ke bidan di tanggal 4 Maret (30 weeks) posisinya mendadak jadi sungsang. Kepalanya ada di atas. Hu hu hu. Okelah, saya masih berusaha tenang waktu itu. Masih mikir pasti masih bisa diperbaiki. Mbak bidan yang cantik dan baik hati juga tetep menenangkan dan meyakinkan ke saya kalo masih bisa diubah posisinya. Saya disarankan untuk rajin melakukan gerakan knee chest selama 5-10 menit  paling tidak 5x sehari. Juga diwanti-wanti untuk tidak melakukan pijat di bagian perut karena beresiko lilitan tali pusar pada janin. Dan diminta kembali lagi periksa 2 minggu lagi. Oke deh, saya jabanin.

Selanjutnya saya datang kembali ke bidan 2 minggu berikutnya di tanggal 18 Maret (32 weeks). Pas diperiksa udah H2C alias harap-harap cemas begitu. Dan ternyata oh ternyata, mbak bidan saya bingung dengan posisi bayi saya. Antara sungsang dan tidak agak susah dilakukan perabaan karena rahim yang besar. Akhirnya mbak bidan sampe minta tolong ibu bidan senior untuk mengecek. Tapi ternyata ibu bidan senior juga ikut ragu-ragu tapi cenderung menyatakan posisi bayi juga masih sungsang. Akhirnyalah saya disarankan seminggu lagi untuk periksa dengan pesan tetep melakukan latihan gerakan knee chest dan tidak boleh dipijat. Setelah itu baru cek dokter jika memang kondisinya masih sungsang lagi.

Dan kemarin pas tanggal 25 Maret (33 weeks) sayapun kembali ke bidan setelah seminggu sebelumnya saya rutin melakukan latigan knee chest dan afirmasi ke bayi saya agar mau merubah posisinya. Dan bagaimana hasilnya??? Bayi saya tetep kekeuh nggak mau muter posisinya alias masih sungsang juga. Ibu bidan menyarankan saya untuk cek ke dokter dan tetep tidak memperbolehkan saya untuk melakukan pijat. Dan saya menyanggupinya karena saya sepakat perihal larangan pijat janin. Meski beberapa orang sudah menyarankan saya untuk melakukannya. Saya masih berusaha untuk tidak panik waktu itu meski saya nggak bisa bohong kalo saya mulai khawatir saya tidak bisa melahirkan dengan cara normal per vaginam. Bukan karena saya takut SC. Bukan juga karena kehawatiran biaya karena saya tau SC bisa ditanggung oleh BPJS. Tapi sungguh, saya mau melahirkan normal. Bukan karena saya anti SC. Bukan juga karena saya ikut aliran yang menghakimi bahwa seorang perempuan  yang melahirkan dengan cara SC tidak bisa menjadi seorang wanita yang seutuhnya. Saya tau SC akan sangat baik dilakukan jika ada indikasi medis tertentu yang mengharuskan seseorang untuk dilakukan SC. Tidak mungkin jika bumil dengan kondisi placenta previa atau preeklamsia dan tetep ngotot tidak mau SC dengan alasan tidak mau dicap sebagai wanita yang tidak sempurna karena tidak melahirkan dengan cara normal. Berbeda ketika seseorang yang dengan kondisi kehamilan dan kesehatan yang baik bersikeras untuk melahirkan dengan SC dengan alasan takut sakit melahirkan atau takut perineumnya sobek dan dijahit sehingga nantinya tidak bisa memuaskan suaminya. Saya hanya seorang perempuan yang ingin menjalani kodrat saya untuk melahirkan dengan cara normal dan alami. Dengan alasan melahirkan alami akan mempercepat pemulihan kesehatan saya, akan memudahkan saya untuk melakukan IMD dan mempererat ikatan batin saya dan bayi saya secepatnya dari sejak lahir.

Karena itu saya tidak ingin menyerah. Saya masih ingin melakukan pemberdayaan diri semampu saya meski ketika baca-baca artikel lagi ternyata ketika usia kehamilan sudah memasuki 34 minggu kemungkinan posisi bayi berubah itu sudah sangat sulit karena ruang gerak bayi yang terbatas. Okehh, meski hari inipun saya batal cek ke dokter karena dokternya lagi menangani SC dan harus nunggu hari Rabu depan, saya anggap ini mungkin kesempatan saya untuk lebih intens lagi memberdayakan diri untuk bisa merubah posisi bayi saya. Semoga saja dalam waktu yang sempit ini saya masih bisa membujuk bayi saya untuk mau muter posisinya. Semoga hari Rabu depan pas ketemu ibu dokter yang cantik adek bayi dengan bangganya mau nunjukin posisinya yang sudah oke. Dan semoga saya bisa mewujudkan impian saya untuk melahirkan dengan cara normal, alami, nyaman, indah dan menyenangkan. Tetap tenang, nggak boleh panik, dan terus berusaha yang terbaik untuk bayi saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s