Maternity Photoshoot Ala-ala

Sebenernya bukan maternity photoshoot beneran sih. Itulah sebabnya saya kasih judul tambahan “ala-ala”. Kenapa??? Ya karena ini memang sesi foto ala-ala saya sendiri. Nggak pake fotografer profesional, juga nggak pake budget sama sekali karena cuman difoto sama temen doang pas waktu ada acara di kantor tanggal 15 Januari kemaren. So, hasilnyapun sekedarnya saja ya. Nggak tau apa emang karena yang motret bukan profesional ataukah karena yang dipotret nggak fotogenik sama sekali. Saya jadi nggak terlihat cantik. Waks. Ya memang pas kemaren itu berawal dari temen saya yang nggak sengaja motret saya dan temen yang sama-sama lagi hamil. Lucu-lucuan aja sih. Trus akhirnya saya jadi pengen saja punya kenangan foto-foto pas hamil. Pas hamil Mas Nadhif dulu nggak pernah foto sama sekali. Hiks.

 

Sindrom Baper si Bumil Tengil

Beberapa hari ini saya merasakan semacam kena baby blues syndrom. Jadi keingat jaman dulu kala setelah lahirannya Mas Nadhif saya juga mengalaminya. Perasaan jadi super sensitif sekali. Gampang nangis. Gampang tersinggung. Dan itu cuma berlaku untuk semua hal yang berkaitan dengan si Mas. Kalo sama orang lain nggak. awalnya saya nggak ngeh dengan perasaan ini. Saya pikir sejak minggu pertama sampe dengan minggu ke 25 ini sih semuanya berasa aman. Saya merasa saya cukup strong untuk menghadapi setiap fase kehamilan saya yang kedua ini. Meski sangat berbeda dengan kehamilan yang pertama (mual muntah yang berlebihan dan nyeri punggung), semua bisa saya lalui dengan suka cita. Dan seharusnya setelah lewat 16 minggu ini semuanya fine. Saya sangat menikmati kehamilan ini. Mual muntah sama sekali menghilang, nyeri punggung sangat jauh berkurang dan hanya sesekali saja, palingan cuma mudah berasa capek saja karena perut sudah mulai membesar dan mulai mengganggu gerakan saya yang sudah nggak bisa bebas seperti biasanya.

Tapi ternyata beberapa hari terakhir ini dengan tetiba saja saya merasa saya nggak diperhatikan sama si Mas. Saya merasa nggak dianggep. Saya berpikir kalo yang namanya ibu hamil itu meskipun dia nggak minta seharusnya suami harus lebih peka dong ya. Si istri minta ini itu ya harus diturutin. Istri minta beli ini itu ya harus dibeliin. Padahal saya minta apa sih???? Saya cuma mau diperhatiin doang. Cuma mau ditemenin bobok saja biar kalo malem-malem saya terbangun dan nggak bisa tidur lagi itu ada temennya melek begitu. Jangan trus tiap malem nonton TV lalu ketiduran sampe pagi dan istrinya dibiarin tidur sendirian. Atau kalo misal abis sholat isya trus tetiba saya langsung tiduran itu artinya saya kecapekan, mau dipijit kakinya biar berasa enakan. Jangan tiap pagi, sore dan malem itu ngurusin burungnya doang, istrinya dianggurin. Hiks. Saya itu bumil yang simpel kan?? (dan itu menurut saya pribadi).

Loh, saya itu nggak pernah minta dibeliin apa-apa loh sama suami selama hamil anak kedua ini. Sekalinya pengen es sirup di warung tetangga juga sampe saya ngambek akhirnya baru dibeliin. Mangkanya kadang saya sampe nggak ngerti sama si Mas. Apa dia emang merasa saya cukup strong dan pengalaman di kehamilan yang kedua ini sehingga si Mas membiarkan saya begitu saja. Ataukah karena emang bener si Mas nggak perduli lagi sama saya *nangis kejer*. Karena itu beberapa hari terakhir ini saya jadi terus mengingat-ingat segala kesalahan si Mas (menurut saya) dan sayapun jadi mewek. Bahkan liat muka si Mas saja bisa langsung air mata saya berderai-derai *lebay*.  Dan anehnya si Mas tetep cuek beibeh saja. Wakakakakakka. Konyol markonyol deh pokoknya. Karena itu setiap si Mas ngomong apapun, saya jawabnya pun sesingkat mungkin dan nggak berani natap mata si Mas. Takut aja tetiba air mata saya meluncur macam air terjun begitu.

Dan saking gemesnya karena sampe kemaren pagi si Mas tetep cuek saja, saya SMS si Mas. Saya bilang “Pengennya sih disayang dan dimanja sama Mas Bojo. Tapi Mas Bojo malah sibuk ngurusi burung-burungnya thok. Ngertio ngono anak 1 wae, gak usah meteng meneh”. Dan gak dibales sms saya. Saya sih cuek saja. Biarin maunya si Mas apa. Saya tetep aja deh jadi ibu hamil yang kuat dan tegar (copas afirmasi gentle birth-nya Mbak Yessi Aprillia).

Dan sorenya ketika si Mas pulang kejadian luar biasa pun berawal mula. Pulang kerja yang biasanya si Mas langsung ke rumah Mbah dan ngurusin burung, ini si Mas langsung mandi dan nonton TV. Saya masih biasa saja dengan agenda memasak dan bersih-bersih rumah. Lalu si Mas laper dan tanyain makanan sudah mateng apa belum. Saya jawabnya pun seadanya. Itu juga sambil nahan air mata. Wakakkaka, berasa kayak anak kecil saja. Malemnya saya dicuekin lagi. Ya sudahlah saya tidur saja. Meskipun akhirnya saya terbangun jam 11 malem dan nggak bisa tidur lagi sampe subuh. Huwaaaaaa. Makin kesini rasanya makin susah aja sih tidur nyenyak. Padahal udah setel afirmasi gentle birth dua kali, sampe setel murottal segala. Bisa tertidur sebentar lah kok sudah adzan subuh aja. Akhirnya sayapun bangun sholat dan abis itu molor lagi.

Tapi alhamdulillahnya pagi-pagi si Mas bangunin saya dengan ciumannya. Hilang semua deh segala gemes dan jengkel selama beberapa hari ini. Ya meski demikian tetep saja saya nangis. Aneh. Gemessss yang luar biasa dengan sikap si Mas itu bisa begitu mudahnya hilang hanya karena dicium pipi doang?? Murah sekali saya sihhhhh (malah jadi gemes sama diri sendiri). Tapi ya sudahlah. Minimal si Mas udah mulai perhatian lagi sama saya. Apalagi pake acara dipijitin kaki saya dan dicuciin piring pulak. Entah kalo nanti mulai cuek lagi ya saya yang nggak ngerti.

Lalu waktu saya senam pagi tadi si Mas juga tetiba saja meluk saya, bilang “I love you” sambil kasih saya duit. Lah saya kaget dong ya. Jadi dia pikir saya diem saja selama beberapa hari ini karena saya kehabisan duit begitu??? Apa jangan-jangan selama ini tiap saya nggak punya duit saya emang selalu bersikap begitu??? Jangan-jangan…..

Akhirnya saya ketawa sendiri. Ternyata oh ternyata,,,, si Mas beberapa hari ini nggak ngeh kenapa sikap saya berubah ke dia. Dadi kudu salto karo jumpalitan dewe.

Dan Semua Ada Waktunya

Sopo sing nandur bakale ngunduh. Apa yang sudah kau tanam, itulah yang nantinya akan kamu tuai. Dan saya sangat mempercayai itu. Jika kita tanam padi, tidak mungkin yang tumbuh ilalang. Meski mungkin tidak langsung sekarang, tapi mungkin suatu saat nanti, jika Allah mengijinkan pasti kita akan menuainya.

Karena itu saya selalu berkeyakinan untuk selalu menanam kebaikan, agar kelak sayapun bisa menuainya. Entah kapan.

Sama halnya jika ada orang yang senang berkelakuan buruk. Senang memfitnah dan mendzolimi orang lain. Baiklah, mungkin tidak akan saat itu juga Anda menerima balasannya. Mungkin juga orang yang Anda dzolimi tidak berdaya untuk membalasnya atau bahkan mungkin orang itu sengaja tidak mau membalasnya. Tapi ketahuilah, Allah Maha Tahu kapan datangnya pembalasan itu agar Anda bisa segera menyadarinya dan bertobat.

Mungkin dulu pada saat Anda rajin menebar keburukan, Anda bersukacita dan bertepuk tangan melihat penderitaan kami. Tapi kami tetap percaya Allah Maha Adil. Allah tidak akan membiarkan kami terpuruk dan tidak berdaya dengan ujian ini. Tapi kini lihatlah. Semua yang Anda tanam dulu sekarang sudah Anda tuai sendiri. Dan memang semua ada waktunya. Ada waktunya Anda tertawa puas melihat air mata kami. Tapi hari inipun kami cukup tersenyum melihat jatuhnya Anda.

Selamat.

Birth Plan

Nama : Ries Lelono

Umur : 34 tahun

Nama Suami : Joko Lelono

Umur : 39 tahun

Alamat : Mondoteko RT 02 RW 02 Rembang Jawa Tengah

G.P.A : –

HPL : 10 Mei 2017

Proses persalinan adalah sebuah peristiwa yang sakral dan tentunya merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Saya menginginkan proses persalinan menjadi sebuah momen indah yang layak untuk dikenang. Saya dan suami telah mengetahui proses persalinan seperti apa yang ideal bagi keluarga kami. Untuk itu kami merasa perlu membuat rencana persalinan sehingga setiap orang baik bidan dan dokter yang merawat saya tahu apa yang saya inginkan dalam proses persalinan nanti.

Siapa saja yang harus mengetahui rencana persalinan saya?

  1. Saya, suami dan keluarga.
  2. Bidan atau dokter yang merawat, baik nanti di ruang bersalin maupun ruang nifas.
  3. Puskesmas/Rumah sakit/Klinik bersalin (saya masih mempertimbangan di mana nanti saya akan melakukan persalinan)

Berikut ini beberapa point yang ingin saya tanyakan sebelumnya :

  1. Mobilitas selama persalinan (kala 1).
  2. Mencukur rambut pubis (ini sudah jarang dilakukan, namun beberapa rumah sakit masih mempunyai kebijakan ini).
  3. Pemasangan infus secara rutin (ini sudah jarang dilakukan, namun beberapa rumah sakit masih mempunyai kebijakan ini).
  4. Enema (baik di rumah atau tempat kelahiran) atau biasa disebut huknah atau lavement yaitu ibu bersalin diberikan cairan khusus melalui anus untuk merangsang agar buang air besar.
  5. Tindakan pemecahan ketuban.
  6. Kebebasan untuk memilih posisi persalinan (ingat posisi persalinan lithotomy atau telentang adalah posisi persalinan TERBURUK bagi ibu bersalin).
  7. Episiotomi.
  8. Kehadiran pendamping persalinan di ruang bersalin (suami, orang tua, dan kerabat lainnya).
  9. Proses pemotongan tali pusat oleh suami atau pendamping persalinan.
  10. Makan dan minum selama persalinan.
  11. Obat pereda sakit yang biasa digunakan atau epidural.
  12. Menyusui segera setelah lahir (Inisiasi Menyusu Dini/IMD).
  13. Forsep atau vakum ekstraksi.
  14. Berbagai teknik relaksasi, termasuk mandi, aromaterapi musik, dan pijat.
  15. Jika diperlukan C-Section.
  16. Anestesi epidural jika mungkin.
  17. Menyusui di kamar nifas (rooming in)

Berikut ini adalah hal-hal yang saya ingin saya miliki selama persalinan:

Saat dalam Persalinan (Kala I)

  1. Tetap aktif (mobile) selama persalinan.
  2. Tidak mencukur rambut pubis.
  3. Tidak dilakukan pemasangan infus secara rutin.
  4. Tidak dilakukan enema, klisma atau huknah yaitu memasukkan cairan sabun atau gliserin untuk mengosongkan usus besar untuk merangsang kontraksi
  5. Buang air kecil sendiri dan usahakan sering buang air kecil
  6. Suami SELALU hadir mendampingi.
  7. Makan dan minum selama persalinan.
  8. Hanya pemantauan janin intermiten (bukan menetap).
  9. Membiarkan ketuban pecah secara spontan (tidak dilakukan pemecahan).
  10. Menggunakan berbagai posisi selama persalinan.
  11. Membawa iPod atau MP3 player selama persalinan.
  12. Dilakukan pijatan selama proses persalinan.
  13. Membawa birthing ball di ruang persalinan.
  14. TIDAK dilakukan induksi.

Saat Persalinan (Kala II)

  1. Tidak dilakukan episiotomi.
  2. Dilakukan perineal massage atau bisa juga kompres hangat pada perineum
  3. IMD secara penuh segera setelah bayi lahir.
  4. Berada dalam posisi yang paling nyaman bagi saya untuk mengejan.
  5. Tidak dalam posisi lithotomy saat bersalin dan mengejan.
  6. Saat persalinan apabila ada indikasi harus SC, pasangan diperbolehkan masuk ke dalam ruang operasi.
  7. IMD segera setelah bayi lahir.

Setelah Melahirkan

  1. Saya ingin tetap menyusui segera setelah bayi lahir.
  2. Saya ingin tidak ada pemisahan Antara saya dan bayi saya
  3. Saya ingin ada penundaan segala macam prosedur seperti menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar dada serta pemberian vit K sampai saya selesai IMD

Demikianlah Birth Plan kami susun

Atas perhatiannya dan atas kesediaannya memenuhi permintaan saya, kami ucapkan banyak terima kasih.

Rembang, Januari 2017

 

Mommy and Daddy

Kalo bahas soal nama panggilan Mas Nadhif ke bapak dan bundanya ini ceritanya bisa panjang bener deh. Secara memang ada sejarah tersendiri di keluarga kami tentang nama panggilan Mas Nadhif buat bapak dan bundanya. Meskipun sebenernya dari dahulu kala jaman masih perawan dulu saya pengennya kalo punya anak nanti dipanggil ibu dan suami saya dipanggil bapak sama anak saya, toh ujung-ujungnya anak saya manggil saya bunda. Padahal dari lahir udah diajarin manggil ibu loh, tapi sejak Mas Nadhif sekolah itu suka ganti-ganti manggilnya. Dari yang awal manggil saya ibu, bergantilah jadi manggil mama, ummi, bunda, kembali manggil ibu, eh ujung-ujungnya kembali lagi manggil bunda sampe dengan sekarang. Sementara kalo manggil bapaknya dari jaman dulu nggak berubah, tetep manggil bapak saja sampe sekarang. Nggak tau kenapa bisa begitu.

Saya sih terserah ya si anak mau manggil apa ke saya, sepanjang nama panggilan itu baek begitu. Karena  menurut saya toh nama panggilan tidak berarti apa-apa. Tidak juga menunjukkan status sosial seseorang. Ya meskipun itu menurut saya pribadi. Karena ternyata menurut orang lain ternyata ada juga yang tidak sependapat dengan saya. Buktinya tetangga saya ada yang bilang gini “Ora anake pegawe wae kok ngundange bunda“. Glek. Heloooo,,,,saya nggak pernah nyuruh anak saya manggil saya bunda loh. Dari lahir saya mengajarkan anak saya manggil saya ibu. Tapi kalo kemudian anak saya akhirnya lebih memilih manggil ibunya bunda apa ya salah? Saya nggak bisa maksa anak saya. Sudah berulang kali dinasehati dan diingatkan tetep saja nggak mau manggil saya ibu. Ya sudah. Lah saya musti piye??

Nah, kemaren pagi saya, Mas dan Mas Nadhif kembali terlibat obrolan tentang nama panggilan lagi.

Saya : “Mas,,,,,,,

Mas dan Mas Nadhif (berbarengan) : “Nggih Bun

Saya : “Mas Joko, bukan Mas Nadhif. Bunda ki sering bingung yen ngundang Mas dan Bapak loh Mas. Mesti nyaut bareng yen diundang

Mas Nadhif : “Mangkane, Bunda ki yen ngundang bapak Daddy ngunu loh Bun. Ojo Mas.

Saya : “Lah bapak ki jenenge Joko kok Mas, dudu Dedi

Mas : “Nek Dedi kui koncone Bapak Mas

Mas Nadhif : “Maksude kui Bunda nek ngundang Bapak kui Daddy, nek Bapak ngundange Bunda kui Mommy. Dadi Mommy and Daddy. Ngono Bun.

Saya : “Lah bapakmu kui mergawene gur nggenjongi galon wae kok kon ngundang Daddy to nang,,,,

Mas Nadhif : “Nek gak ngono nggih ngundange Mimi dan Pipi wae Bun

Saya : “Lak koyo artis wae leh Mas

Mas Nadhif : “Nggih mpun, manggile Yang wae, ben gak kliru karo aku Bun

Alah alah,,,,ngundang model opo meneh iki. Kaku ati ngrasakke anak lanang siji iki.

Mas Nadhif Nggak Mau Hamil

Pagi tadi saya lagi ngemil biskuit tambahan makanan untuk ibu hamil yang dikasih bu bidan kemaren sore (pagi-pagi namanya sarapan mak, bukannya ngemil. *lol*).  Dan yang namanya emak yang baek tentulah anaknya ditawarin juga dong.

“Mas Nadhif mau biskuit?”

“Biskuit apa Bun?”

“Biskuit untuk ibu hamil dari bu bidan Mas. Enak loh rasane, rasa stroberi”

“Emoh ah Bun. Lah aku mengko nek hamil piye?”

“Ya enggak to Mas. Gak pa-pa”

“Pokoke emoh. Aku gak mau hamil Bun”

Gubrakkkkk. Kudu salto wae. Ki jane sing salah sopo to yoooo,,,,,

I’m Pregnant…Again!

Saya hamil. Lagi. Udah 14 minggu 1 hari (Loh kok seperti nggak seneng begituhhh? Ekspresinya datar amit yak). Huwaaaa,,,,,,kok jadi tambah nangis yak?

Sejujurnya saya nggak semangat posting beginian di blog ini. Bukan karena saya tidak bahagia dengan kehamilan ini. Tapi lebih kepada kondisi yang mengiringinya yang membuat saya males buat cerita. Saya nggak pengen ketidakberdayaan saya ini menimbulkan keinginan saya untuk nyampah yang nggak jelas, ngeluh yang berlebihan dan sebangsanya, sementara sebenernya itu cuma saya sendiri saja yang terlalu berlebihan. Saya yang mungkin too much. Saya yang jadi drama queen di masa kehamilan saya yang kedua ini. Saya sebenernya nggak pengen begituhhhh. Tapi kok ya rasanya mosok sih saya nggak nulis apapun selama saya hamil ini. Ini kejadian besar loh. Besarrrrrr. Tapi mau cerita apa? Di trimester pertama ini sungguh-sungguh saya berada pada kondisi kesehatan yang bener-bener buruk. Sangat buruk. Karena itu saya nggak pengen memberi kesan buruk di tulisan-tulisan saya ini. Saya mau bahagia. Saya mau seneng. Saya nggak pengen ngeluh-ngeluh. Hiks.

Sebenernya kehamilan ini di luar prediksi saya. Bukan maksudnya kehamilan ini karena kecolongan loh ya. Jujur memang sesungguhnya saya cuman pengen punya satu anak *ditimpuk suami pake sapu lidi*. Ngurus Mas Nadhif saja sudah berasa bingit capeknya kan ya,,,,,(mana ada emak yang ngeluh ngurus anaknya macam saya ini). Jadi ketika saya berbesar hati untuk menuruti kemauan Mas untuk hamil lagi setelah selesai kuliah dan punya rumah sendiri, saya masih mikir bakalan setahunan lagilah hamilnya atau bahkan bisa lebih. Seperti cerita temen-temen, tetangga dan sodara yang begitu pengalamannya ketika melepas kontrasepsinya. Pikir saya sih masih aman. Sebenernya saya sudah pernah melepas kontrasepsi di awal tahun lalu pas bangun rumah. Cuma bertahan 2 bulan saja. Habis itu mulai horor lagi dan pake lagi. Udah gitu mulai lagi ngobrol-ngobrol sama Mas panjang kali lebar. Dan akhirnya pertengahan bulan April saya lepas lagi. Pas puasa Ramadhan sekitar bulan Juni saya sempat telat 2 minggu lebih, tapi akhirnya flek dan menstruasi lagi. Barulah ketika bulan September saya telat 3 minggu dan periksa dinyatakanlah positif. Mas dan Mas Nadhif sih seneng banget. Lah saya??? Kok cepettt bangetttt sihhhhh?????

Sebenernya bukan karena nggak seneng sih ya. Saya seneng. Bahkan dalam pikiran saya itu saya lebih siap secara mental daripada kehamilan yang pertama dulu yang belum punya pengalaman apa-apa. Lah jadinya yang nggak siap itu dalam hal apa? Dalam hal materi? Hahahaha,,, saya sih percaya tiap anak bawa rejekinya sendiri-sendiri. Ini sih lebih kepada kondisi badan saya saja yang super teler selama hamil sampe dengan hari ini. Bayangin saja, saya nggak cuma morning sickness tapi everyday sickness. Waks. Sehari bisa sampe 10 kali mual dan muntah. Nggak pagi, nggak siang, nggak malem. Udah gitu tiap malem susah tidurnya. Kalopun bisa tidur, tengah malem pasti terbangun, muntah dulu, trus nggak bisa tidur lagi sampe pagi. Saya juga sulitttt banget minum air putih. Dan saya sangatttttt sangatttt sangattttt sensitif sama yang namanya semua yang berbau tajam. Bau masakan, bau gorengan, bau makanan burung, dan apapun yang berbau menyengat langsung membuat saya muntah. Termasuk bau tempat cucian piring. Hiks. Alhasil sampe dengan hari ini saya hampir tidak pernah masak. Karena untuk saat ini kegiatan memasak sungguh merupakan suatu kegiatan yang sangat menyiksa saya. Dan saya juga nggak pernah cuci piring. Yang cuci piring Mas. Karena Mas nggak tega tiap cuci piring saya pasti muntah. Berasa jadi istri dan ibu yang nggak guna banget (sstt,,,,jangan cerita yang ini sama mami mertua saya).

Dan yang paling-paling bikin saya nyesel itu karena ketidakberdayaan saya ini saya juga jadi nggak bisa menemani Mas Nadhif belajar. Karena setiap malem saya langsung tepar di tempat tidur. Alhasil saya main feeling saja percaya sama Mas Nadhif. Walaupun sebenernya saya nggak percaya. Saya nggak bisa tulus ikhlas melepas Mas Nadhif belajar sama bapaknya. Tau sendirilah bagaimana bapaknya. Tapi saya harus bagaimana???? Jadi kalo beberapa bulan terakhir ini Mas Nadhif mulai bikin ulah lagi, saya jadi dilema rasanya. Karena saya hanya bisa menasehatinya sebisanya. Nggak bisa kasih waktu saya ke dia sebanyak-banyaknya seperti dulu (emang dari dulu seberapa banyak waktu saya untuk anak saya ya?).

Ah, yang namanya wanita hamil pastilah punya cerita sendiri-sendiri ya. Ada yang baik-baik saja. Ada juga pastinya yang seru-seru kisahnya. Ada yang ngidam ini itu, atau yang nggak pengen apa-apa macam saya ini. Pernah sih saya pengen makan asinan buah, tapi alhamdulillah kesampean dan habis itu udah nggak pengen lagi. Mas sampe nanya-nanya terus tiap hari saya mau makan apa biar Mas yang beliin. Tapi saya nggak pengen makan apa-apa. Gimana mau pengen ini itu, belom makan saja saya udah bayangin ntar habis makan pasti muntah lagi. Hiks. Bahkan ketika seminggu lalu saya periksa ke bidan saja saya sampe ditegur karena dalam sebulan BB merosot tajam sebanyak 4kg. Haloooo,,,,kalo lagi diet aja mau nurunin 1 ons rasanya susah amit, lah ini saat hamil dan seharusnya timbangan naek eh malah justru turun dengan suksesnya.

Saya sih berusaha menikmati sebisanya kehamilan saya ini. Berharap dan berdoa semoga semakin hari akan semakin baik kondisinya. Semoga diberikan kemudahan dan kelancaran selama hamil dan proses persalinan nanti. Dan semoga dianugerahi anak yang sehat dan soleha (maunya maunya maunya). Amin amin amin.

Note : “Males cerita, tapi ujung-ujungnya panjangggg kayak ular tangga”

Aku Harus Apa?

Seringkali aku bertanya, apa maksud dari sekian lama perjumpaan kita Dick? Apa yang kamu mau dari ini semua? Apa yang kamu ingin untuk aku lakukan tentang kita? Aku harus apa?

Terkadang aku dalam prasangkaku sendiri berkhayal mungkin kamu mau aku selalu mengingatmu seumur hidupku. Itu sudah aku lakukan Dick. Sudah. Kamu bahkan tak perlu setiap waktu menemuiku dengan caramu itu meski seringkali tanpa sadar aku mungkin justru sangat menyukainya.

Atau mungkin sebenarnya tanpa aku sadari justru aku sendirikah yang menciptakan perjumpaan-perjumpaan kita? Aku harus apa?

Dan kamu pasti tau aku tidak akan pernah bisa membuangmu dari sudut hatiku. Kamu yang selalu terkenang. Kamu yang tak pernah setitikpun ada cela yang patut aku benci. Tapi kamu juga harus tau jika waktuku terus berjalan Dick. Aku masih harus meneruskan hidupku di dunia ini. Perjalanan panjang setelahmu yang masih mengharuskanku untuk bersama yang lainnya selain kamu.

Dick, wajarkah cerita kita ini? Akukah yang salah dengan semua ini? Jika iya, tolonglah aku untuk menghentikan semua ini jika memang ini salah. Beritahu aku harus apa Dick, aku harus apa??????

Kamu bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun di setiap perjumpaan kita. Bertahun-tahun dan selalu saja seperti itu. Jika kamu ingin aku mendoakanmu, itu juga selalu aku lakukan tanpa kamu minta Dick.

Dick, jika memang ini yang kamu mau. Jika memang ini yang kamu inginkan. Aku bisa mengerti. Meski selamanya aku tidak akan pernah bisa memahami kenapa bisa terjadi seperti ini. Ada apa dengan kamu. Ada apa dengan aku. Dan ada apa dengan kita.

Dick, aku tidak pernah tau berapa kali lagi kita akan bertemu. Apakah masih akan ada malam-malam selanjutnya. Ataukah semalam adalah akhir dari perjumpaan kita. Sama seperti dulu, waktu kamu menemuiku untuk pertama kalinya setelah kamu pergi. Saat itu aku sangat bahagia. Karena menurutku sangat jarang bisa bertemu dengan orang yang sudah pergi dalam mimpi kita. Meski setelahnya kebahagiaan itu justru berubah menjadi rasa heran, kenapa selalu dan selalu saja kita bertemu. Dan itu terjadi sampai dengan semalam.

Sudah 18 tahun sejak kepergianmu di hari itu tapi sampai hari ini aku merasa kamu tidak pernah jauh dariku. Aneh bukan? Ya, karena kamu selalu menemuiku. Atau mungkin karena aku yang ingin kamu menemuiku?

Ini sungguh gila. Tapi aku sendiri tidak tau penyebabnya dan aku tidak tau bagaimana cara menghentikannya. Aku merasa aku masih sangat waras. Tapi aku merasa tidak berdaya dengan segala sesuatu yang menyangkut tentang dirimu.

Dick, aku harus apa?

Mungkin nanti, jika takdir membolehkan aku menemuimu dan bisa berbicara padamu aku akan menanyakannya. Dan kamu harus menjawabnya. Tidak hanya sekedar tatapan mata dan senyumanmu seperti biasa. Atau seperti semalam,,,,,taukah kamu aku merasa seperti seorang anak remaja yang baru kenal cinta pertamanya. Perasaan yang aneh. Yang tidak aku mengerti.

Aku harus apa Dick? Aku harus apa????

All About Mas Nadhif

“Jika perlu jadilah satu-satunya orang yang percaya bahwa anak kita cerdas, meskipun seluruh dunia mengatakan anak kita bodoh. Karena sekali saja kita menyebut dia bodoh, itu sama artinya kita membunuh karakternya”

Kira-kira seperti itu kalimat yang tepat untuk membuka cerita ini. Cerita tentang Mas Nadhif. Cowok manis terspesial di hati saya.

Mungkin karena saya dan Mas spesial, karena itu Allah menganugerahkan anak sespesial Mas Nadhif untuk menjadi buah hati kami.

Sesungguhnya saya sudah mulai menyadari keunikan Mas Nadhif dari awal dulu. Ketika Mas Nadhif mulai bisa berjalan dan bicara. Mas Nadhif tidak bisa duduk diam barang sejenak. Dan lucunya saat umur 1,5 tahun dia sudah pintar bicara dan hafal banyak lagu-lagu anak. Demikian terus sampai dengan usia sekolah. Jika mungkin anak yang lain bisa duduk diam mendengarkan gurunya menerangkan pelajaran, anak saya berbeda. Dia akan senang berlarian, mengusili temannya, atau corat coret di bukunya. Saya tidak heran kalau hampir di semua buku tulis dan LKSnya penuh dengan gambar-gambar robot dan mobil. Seharusnya saya mengerti. Tapi waktu itu saya marah.

Mas Nadhif juga seringkali tidak mengerjakan PR ketika saya lupa bertanya “Ada PR nggak Mas?”. Bahkan kadangkala bohong dengan bilang tidak ada PR padahal sebenarnya ada dengan tujuan agar tidak perlu belajar. Dan saya akhirnya tetap tau karena besoknya tantenya cerita Mas Nadhif dihukum menulis surat pendek karena tidak mengerjakan PR.  Mas Nadhif juga tidak mau cerita kalo ada ulangan. Dia sangat menghindari berlama-lama belajar di rumah. Merasa tertekan jika saya marah-marah karena dia susah sekali diajari perkalian dan pembagian. Seharusnya saya bisa mengerti. Tapi saya kembali marah.

Lalu saya (yang merasa menjadi satu-satunya orang yang paling benar) berusaha mencari solusi ini anak saya perlu penanganan khusus. Jika saya sebagai orang tuanya tidak bisa mengajarinya, mungkin orang lain bisa. Kemudian saya memasukkan Mas Nadhif ke tempat les. Apakah kemudian dia berubah?? Ternyata tidak. Dan saya masih juga belum menyadari apa yang terjadi.

Kemudian saya juga konsultasi pada teman yang biasa menangani anak berkebutuhan khusus. Kata beliau anak saya baik-baik saja. Dia hanya perlu orang tuanya lebih banyak menyisihkan waktunya untuk dia. Anak tidak perduli sesibuk apa orang tua, ketika di rumah 100% diri orang tua hanya untuk anak. Temani dia belajar. Ajak ngobrol. Lebih banyak komunikasi dengan anak. Hanya butuh kesabaran. Begitu teorinya. Saya manggut-manggut. Berpikir itu hal yang mudah saya lakukan. Tapi kenyataannya sangatttt sulitttt. Saya bukan orang yang sabar. Karena ketika Mas Nadhif mulai bikin ulah. Setiap hari. Nggak ada habisnya. Dan kesabaran saya langsung lenyap. Menghilang. Tanpa saya sadari kalo anak saya melakukan itu sebagai cara untuk mendapatkan perhatian saya. Saya tidak mau mengerti sudut pandangnya sebagai anak. Saya hanya mau Mas Nadhif sebagai anak kecil yang perilakunya sedewasa saya. Saya gagal paham jika yang dia pikir saat itu dengan dia berulah maka saya akan menoleh, saya akan memarahinya, atau kadang mencubitnya lalu kemudian saya juga ikut menangis dan meminta maaf padanya. Dan dia justru menikmati itu. Seharusnya saya mengerti itu. Tapi saya masih tetap saja marah setiap kali keadaan tidak seperti yang saya harapkan.

Semakin ke sini saya semakin bosan. Saya tidak bosan terus belajar mendidik anak. Saya tidak bosan setiap hari mengingatkan Mas Nadhif “sikat gigi ya mas, ada PR nggak mas, pinter ya di sekolah, jangan lupa ngaji, pulang sekolah seragam tas dan sepatu ditaruh di tempatnya” dst. Saya hanya merasa apakah ini sudah benar? Apakah cara saya mendidik anak saya sudah sesuai dengan yang dia mau? Apakah dia nyaman saya perlakukan seperti itu?

Benar kata kepala sekolahnya Mas Nadhif, “Ekspektasi orang tua, hampir rata2 sama seperti itu Bun,, Wajar, karena setiap kita ingin yang terbaik untuk anak, dan berharap ananda pun meraih yang terbaik. Padahal terbaik bagi anak itu berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan yang lain”. Saya sangat tertohok waktu mendengar itu. Tanpa sadar saya suka membanding-bandingkan Mas Nadhif dengan saya di waktu kecil. Saya yang selalu rangking. Saya yang nggak pernah ditemani orang tua saat belajar. Dan saya bisa mandiri. Kemudian saya juga berharap anak saya akan meniru saya 100%. Dan saya kalang kabut ketika semuanya di luar prediksi. Jauhhhhh sekali dari bayangan saya. Padahal anak itu bukan fotocopy dari orang tuanya. Anak tidak selalu sama dengan masa kecil kita. Anak juga bukan kita dalam wajah bocahnya. Dia tetaplah anak-anak. Kitalah yang seharusnya melihatnya dengan dengan sudut pandang dia, sudut pandang anak-anak, bukan sudut pandang kita sendiri.

Dari situ saya mulai mencari tau lagi tentang Mas Nadhif. Belajar sana sini. Browsing tentang dunia parenting dan pendidikan anak. Semua saya lakukan. Apapun demi Mas Nadhif. Dan akhirnya saya mulai bisa menyimpulkan bahwa Mas Nadhif dominan otak kanannya. Dia suka musik, olahraga, tidak bisa diam, bersenang-senang, imajinasinya tinggi, kreatif, tidak bisa dipaksa duduk diam belajar berjam-jam, lemah dalam matematika dan hafalan. Beberapa hari yang lalu dia bilang ke saya “Aku paling senang hari Senin, Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu Bun”. Waktu saya tanya kenapa, jawabnya karena Senin olahraga, Selasa pramuka, Rabu rebana, Sabtu SBK dan Minggu bisa main sepuasnya. Saya juga menemukan buku komik di antara tumpukan buku pelajarannya. Buku komik Mas Nadhif hanya buku tulis biasa. Yang istimewa adalah di dalamnya berisi puluhan gambar robot yang ada ceritanya seperti dalam komik.

Dan saya juga menemukan bahwa Mas Nadhif termasuk anak dengan tipe belajar kinestetik. Anak yang tidak bisa diam. Anak yang tidak bisa disuruh duduk manis belajar berjam-jam. Jangankan mau belajar setiap hari, ada ulangan atau PR pun kalo bisa Mas Nadhif tidak perlu berlajar. Sepertinya memang kata “belajar” merupakan momok bagi dia. Belajar menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Mungkin karena saat belajar dia tidak merasa nyaman. Mungkin karena saat menemani belajar saya selalu minta dia duduk diam fokus mengerjakan tugas atau menghafal. Dan ternyata itu membuat Mas Nadhif tertekan.

Akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai mempraktekkan apa yang saya pelajari ke Mas Nadhif. Saya mulai dengan memotivasi dia dengan menempel gambar barang2 yang dia impikan di kamarnya. Saya bilang “Kalo nilainya Mas Nadhif semester ini lebih bagus dari semester kemaren, Bunda akan belikan Mas Nadhif mobil remote control”. Dia mulai antusias. Dia tanya apakah warna mobilnya boleh milih, apakah boleh minta ukuran yang besar. Saya bilang boleh. Mas Nadhif boleh milih yang mana yang dia suka. Asalkan nilainya bagus. Lalu saya tempel lagi gambar yang lain. Barang-barang yang sangat dia mau. Matanya semakin berbinar-binar. Saya sudah memulainya.

Kemudian saya juga merubah cara belajarnya. Saya bolehin Mas Nadhif mendengarkan musik yang dia suka saat belajar. Saya juga membiarkan dia break sebentar untuk menggambar apa yang dia suka. Saya tidak memaksanya belajar berjam-jam dengan banyak mata pelajaran. Saya tidak memaksanya membaca lama. Saya tau Mas Nadhif tidak menyukai tulisan kecil-kecil yang jumlahnya berlembar-lembar itu. Saya memulai sedikit demi sedikit.

Dan trik saya sementara berhasil. Dari semula yang Mas Nadhif tidak pernah mau belajar kalo tidak ada PR, beberapa hari ini dia mulai mau mengikuti aturan saya. Tentu saja saya harus bicara lemah lembut padanya, sedikit merayu-rayu memainkan emosinya. Ini benar-benar tantangan buat saya. Tapi rayuan saya berhasil. Mas Nadhif dengan suka rela mau belajar. Satu mata pelajaran. Hanya satu. Oke. Gpp. Ini jauhhhhh lebih baik dari sebelumnya. Saya mulai dengan trik-trik seperti yang saya pelajari. Dan ternyata tanpa dia sadari satu bab selesai dipelajari dan dikerjakan soal-soalnya. Horray!!!! Saya dan Mas Nadhif sama-sama menang. Dan kita merayakannya dengan tos bersama.

Saya mulai menikmati proses ini. Memang tidak bisa instan. Tidak akan merubah Mas Nadhif dengan cepat secepat pesulap bilang simsalabim. Tapi saya yakin Mas Nadhif bisa. Karena doa dan support saya ibunya dan tentu saja bapaknya.

Anak dengan tipe musikal dan kinestetik tidak hanya Mas Nadhif saja di dunia ini. Tapi tidak semua orang tua dan guru mengetahui cara yang tepat untuk menanganinya. Saya bersyukur mulai bisa melihat potensi anak saya meskipun juga menyesal kenapa tidak dari dulu menyadarinya. Dan saya juga merasa saya sudah tepat menyekolahkan Mas Nadhif di sekolahnya yang sekarang. Sekolah dengan kurikulum pendidikan yang saya pikir tepat untuk Mas Nadhif. Guru-guru yang semuanya selalu membuka lebar-lebar pintu komunikasi dengan orang tua murid. Support dan dukungan yang penuh untuk murid setiap hari. Kata-kata menenangkan dan menyejukkan hati yang membuat saya bisa melangkah dengan ringan ketika meninggalkan sekolah sehabis sharing dengan wali kelas dan guru mata pelajaran Mas Nadhif.

Saya belajar bahwa tidak ada anak yang bodoh di dunia ini. Anak-anak terlahir dengan keunikan mereka sendiri-sendiri. Anak yang pandai matematika dan sains, yang selalu rangking di kelas belum tentu akan menjadi orang sukses nantinya. Demikian juga anak yang nilai akademiknya jelek, tidak pernah rangking di kelas dan selalu bikin ulah belum tentu hanya akan menjadi orang yang miskin dan tidak berguna. Guru dan lingkungan mungkin bisa melabeli anak yang demikian itu sebagai anak yang nakal dan bodoh. Tetapi kita, orang tuanya, sepatutnyalah meyakini bahwa anak kita tidak bodoh. Anak kita cerdas. Anak kita kelak akan mampu sukses dan membanggakan kami orang tuanya. Sebanyak apapun mereka bilang anak kita bodoh, sebesar itulah kita terus meyakini anak kita cerdas.

Terus semangat mendidik dan mengasuh anak kita. Karena jika bukan kita orang tuanya, siapa lagi yang kita harapkan bisa mendidiknya.

Love you so much Mas Nadhif,,,,,,

Si Mas “Sakit”

Kenapa harus “sakit”? Ya karena sebenernya bukan sakit beneran sih. Maksudnya bukan yang sakit dalam bentuk penyakit yang jelas ada namanya semisal sakit kepala, typus atau semacamnya begitu.

Jadi ceritanya sudah dua puluh tahun ini ada benjolan semacam daging tumbuh di punggung bawahnya Mas. Sebenernya duluuuuu sekali sudah pernah ada, nggak terlalu besar sih, cuma seukuran seruas jempol tangan saja. Dan sudah pernah diambil waktu itu di klinik dokter bedah. Nah setelahnya ternyata benjolan itu tumbuh lagi. Dulu waktu saya dan Mas nikah sebenernya sudah keliatan benjolannya. Cuma nggak gede. Dan Mas nggak pernah ngeluh apa-apa. Jadinya saya masih tenang-tenang saja sih. Saya pikir memang nggak ganggu. Tapi ternyata beberapa tahun terakhir ini mulai kepikiran juga, kok makin lama makin gede ya benjolannya. Mas bilang sih nggak pa-pa. Katanya nggak sakit juga. Cuman tiap kali dipake duduk atau tiduran terlentang lumayan lama ya berasa juga. Tapi tiap kali diajak periksa ke dokter Mas selalu bilang nanti-nanti sajalah. Saya pikir Mas takut operasi atau gimana. Nggak taunya belakangan ketika saya tanya lagi kenapa dari dulu nggak mau tiap kali diajak ke dokter ternyata karena takut biayanya besar dan saya nggak punya uang untuk biaya operasi. Haduhhhh.

Akhirnyalah hari Jum’at  pagi (5/8/16 ) kemaren saya sms Mas “Mas, nanti sore kita ke dokter Laksmi”. Kemudian sorenya sekitar jam limaan kita ke sana. Antrinya lamaaaaaa bener bro. Jam setengah sembilan baru deh kita nyampe rumah lagi. Di dokter Laksmi langsung dikasih surat rujukan ke poli bedah di RSUD Rembang. Sempat ditegur juga kenapa dibiarin sampe segede itu baru periksa. Mas sih diem saja.

Esok harinya saya anter Mas di RSUD sebelum berangkat kerja. Dan cerita dimulai. Ternyata oh ternyata Mas itu mentalnya nggak segede badannya. Masak cuma periksa begitu doang nggak mau ditinggal. Gemes nggak sih. Akhirnya saya urusin dulu itu administrasi pendaftarannya. Dapet nomor antrian 84. Masih lamaaa. Jadi Mas tak bilangin kalo saya mau ke kantor dulu. Ntar kalo dipanggil nomor antriannya tinggal maju aja. Trus berkasnya dikasih ke perawat ruang poli bedah. Baru nanti telpon saya, jadi pas masuk ke ruang dokternya saya bisa dampingin untuk tanya ini itu musti gimana selanjutnya. Mas sih ngangguk-ngangguk aja meski awalnya nggak mau ditinggal. Tapi ternyataaaa,,,,baru saja sejam di kantor udah ditelpon lagi sama si Mas. Katanya ini udah nomor 75, saya suruh cepet ke sana. Hadehhhhh.

Ya sudahlah. Saya sih nggak bisa maksa orang dan harus bisa maklumin kalo si Mas emang nggak pernah periksa ke RSUD atau ngurus ini itu administrasi rumah sakit selama ini. Apa-apa semua selalu saya yang ngurusin. Kesana kemari ngurus rumah sakit, ngurus buku nikah emak yang hilang de el el itu semuanya saya. Okeh, akhirnya saya cabut ke rumah sakit, diurus di pendaftaran, trus langsung ke poli bedah. Hari ini yang praktek kebetulan dokter Eko Gunawan. Dan alhamdulillah antrian di poli bedah cuma 4 orang, dan Mas dapet nomor urut 3. Dokter sudah di dalam ruang. Sempat mikir kalo kayak emak di poli penyakit dalam yang antriannya banyakkkkkk dan dokternya datangnya siang begituh trus kapan saya balik kantornya. Dan beruntungnya lagi meski nomor urut 4 ternyata sama perawatnya dipanggil di nomor urut 2. Ini si perawat salah urutannya tapi saya suka. Sama dokter Eko si Mas diperiksa dan langsung dikasih semacam resep untuk ke ruang IGD pesen kamar. Operasi dilakukan hari Senin.

Di IGD ternyata hari itu kamar penuh. Saya diminta pulang dulu dan besoknya diminta telpon lagi. Hari Minggunya saya telpon dan diminta datang jam tiga sore. Langsung saya packing. Mas Nadhif tinggal di rumah karena anak kecil nggak boleh masuk rumah sakit dan dia musti sekolah.

Nginep semalem di rumah sakit, Mas diminta puasa mulai jam 20.30. Esoknya Senin (8/8/16) jam 08.10 Mas masuk ruang operasi dan keluar jam 10.15.  Alhamdulillah semuanya lancar. Jahitan bekas operasinya lumayan panjang sih, ada 9 jahitan. Itu karena benjolan yang diambil lumayan gede, lebih gede dari telur bebek. Saya sampe kaget dan sedikit ngeri saat perawat ngasih ke saya itu benjolan yang diambil. Mana ditaruh di dalam plastik bening pulak *mau muntah*. Langsung deh saya lari-lari ke kamar buat dimasukin lagi ke plastik hitam. Untunglah jarak ruang operasi dan kamar si Mas deket. Jadi saya nggak perlu muntah beneran deh. Siangnya langsung tak bawa pulang untuk dikubur dalam tanah.

C360_2016-08-08-07-58-42-098

Musti gini mulu. Berasa kayak pacaran deh.

C360_2016-08-08-07-57-35-070

Siap-siap nunggu jemputan ke ruang operasi

Dan Selasa paginya waktu dokter visit, alhamdulillah Mas langsung boleh pulang. Tinggal nunggu ganti perban, obat, surat buat kontrol dan cabut benang jahitan sama cabut infus doang.Saya langsung packing buat pulang. Pamitan ke Mas mau masuk kantor dulu. Ntar kalo infusnya udah dicabut tak minta telpon lagi biar saya ke sana. Sapa tau musti ngurus administrasi dan obatnya. Eh, baru juga rapat PMB bentaran dan belom selesai Mas sudah telpon lagi, katanya obatnya sudah dikasih langsung ke kamar. Saya diminta langsung ke rumah sakit lagi. Untunglah bagian saya udah selesai laporan. Dan beruntung lagi jarak kantor dan rumah sakit nggak jauh-jauh amat.

Sampai di sana langsung deh saya urus ke ruang perawat. Ternyata saya nggak perlu ngurus apa-apa. Tinggal nunggu infus Mas dicabut saja. Dan saya nggak perlu bayar apa-apa karena pake kartu BPJS dari kantor. Cuma keluar 10 ribu doang buat beli underpad untuk operasi Mas. Tengkyu STIE. Tengkyu BPJS. Dan tengkyu buat dokter dan perawat-perawat yang semuanya baik dan juga ramah. Oke banget deh pelayanannya. Tak lupa terima kasih buat semua keluarga, kerabat, teman dan tetangga yang sudah meluangkan waktu untuk jenguk si Mas. Padahal udah disembunyiin sedemikian rupa karena nggak pengen ngerepotin banyak orang, eh ketauan juga.

Sekarang sih tinggal pemulihan doang. Jadi Mas belum bisa masuk kerja. Jahitan belum kering. Tidur masih miring. Jongkok belum bisa. Kemarin sih sudah tak beliin obat sinshe yang buat luka habis operasi itu. Semoga saja cepet kering jahitannya.

Sebenernya nggak ribet sih ngurus Mas selama “sakit” ini. Tapi manjanya itu lohhh,,,,,, nggak ketulungan. Nggak mau ditinggal. Nggak mau ditungguin orang lain. Semuanya harus sama saya. Hu hu hu. Dan ternyata cowok itu kalo lagi sakit manjanya bisa melebihi anak kecil. Mas Nadhif saja kalah sama bapaknya.